Rabu, 11 Juni 2014

Bonsai yang Menarik Perhatian di Cirebon

Oleh Henri Nurcahyo

Ketika dilangsungkan Pameran Nasional Bonsai di halaman Carefour Cirebon, perhatian pengunjung langsung tersedot pada tiga bonsai yang ditata tidak sebagaimana lazimnya. Penataan itu mulai dari penggunaan pot yang aneh, disekat kanan kiri dengan bilik bambu, diberi asesoris berupa kembang kamboja dan miniatur bejana air serta hamparan pasir. Bahkan meja untuk ketiga bonsai itu menggunakan kain batik motif Megamendung, bukan kain polos seperti lainnya.

Bukan hanya itu, “pada waktu pembukaan malah saya nyalakan dupa di situ sambil saya setelkan musik Sunda,” jelas Nurul Fazri (36 tahun) pemilik ketiga bonsai kelas prospek tersebut. Tidak heran kalau pengunjung, apalagi masyarakat umum yang sedang belanja ke pusat perbelanjaan itu dipastikan berlama-lama mengamati sambil bertanya-tanya, apa maksudnya.

Menurut anggota PPBI Cabang Kuningan itu, penataan bonsai yang seperti itu sebelumnya sudah minta izin kepada panitia. Meskipun, kalau toh tidak diperbolehkan dia tetap akan melakukannya meski dengan konsekuensi tidak akan dinilai oleh juri. Toh ternyata juri tetap melakukan penilaian, dan salah satu bonsai itu berhasil mendapatkan bendera merah (baik sekali).

Kebetulan ketiga bonsai itu mendapat tempat di urutan kesatu hingga ketiga. Bonsai yang pertama, adalah santigi yang tumbuh di atas bongkahan batu besar yang berlubang di belakangnya. Andaikata bonsai ini dilihat  dari arah belakang akan menimbulkan kesan sebuah pohon yang berada di dalam gua. “Memang ada yang menyarankan begitu, dibalik saja penampilannya,” ujar pengusaha permen dan biro perjajalanan umrah dan haji plus ini.

Lantaran kesannya adalah sebuah pohon yang ada di sebuah pulau batu, maka Fajri melengkapinya dengan hamparan pasir yang seolah-olah lautan, juga bunga kamboja yang berserakan. Namun anehnya, di tengah “lautan pasir” itu terdapat miniatur tempat air dan tungku untuk membakar dupa. Dalam imajinasinya, bonsai ini ditempatkan dalam suasana yang menghadirkan kekaguman lantaran mengingatkan adanya pohon yang mampu tumbuh di atas batu di tengah laut. “Kira-kira bisa mengingatkan Tanah Lot di Bali gitulah,” tambahnya.

Bonsai kedua, juga santigi, tampil lebih aneh lagi. Pot yang digunakan sangat tidak lazim, yaitu sebuah bakul dari anyaman bambu yang biasa untuk wadah nasi. Ini memang bakul asli, namun sudah diatur sedemikian rupa sehingga kuat menahan beban berat media dan bonsainya. Di dalamnya sudah diperkuat dengan kayu, tali kulit sapi dan alas kayu jati. Bakul nasi seperti itulah yang biasa digunakan pedagang tahu gejrot, kuliner khas Cirebon. Di bagian bawahnya terdapat miniatur bakul nasi lagi dan dua buah wadah air, serta juga bunga kamboja berserakan.

Bonsai kedua ini berangkat dari gagasan kekayaan budaya Cirebon, dalam hal ini kulinernya. “Memang seharusnya ada peralatan makanan yang berserakan di bawahnya, juga ada padi, sehingga kesan kulinernya menjadi kuat,” ujar Fazri. Sementara tampilan bonsainya sendiri meliak-liuk seperti gerakan orang menari. Bisa jadi, orang mengasosiasikan pada tari Jaipong yang memang khas Sunda.

Sedangkan bonsai yang ketiga menghadirkan tema “misteri”. Sebuah pohon santigi yang mustinya tumbuh menyamping, oleh Fazri sengaja dipasang terbalik dengan tekukan batang sebagai puncaknya. Kesannya menjadi seperi gaya air terjun (cascade) namun secara keseluruhan nampak aneh. Seperti pohon yang semula tumbuh ke atas, kemudian balik lagi ke bawah. Kesannya seperti mistik, pohon angker, sehingga dapat memunculkan munculkan aura tertentu. Bonsai santigi ketiga inilah yang termasuk mendapat predikat “baik sekali” menurut penilaian juri.

Baru Pertama Kali

Diakuinya, penampilan bonsai seperti itu memang baru pertama kali dilakukannya. Termasuk juga di Cirebon. Fazri sendiri mengaku terinspirasi foto-foto penampilan bonsai yang dibagikan Robert Steven mengenai adanya bonsai yang tampil tidak lazim. Ada bonsai yang menggunakan ban mobil bekas sebagai potnya, ada yang potnya pecah dan sebagainya.

Kemudian dia mencoba-coba sendiri mencari tema tertentu untuk mendisplay bonsainya agar tidak tampil biasa-biasa saja. Hal ini sekaligus “latihan” untuk dapat mengikuti pameran internasional bonsai yang bakal diselenggarakan Aksisain di Yogyakarta tahun depan. “Tapi saya akan mencoba lagi dalam pameran di Jepara akhir Oktober nanti,” ujar anak bungsu dua bersaudara ini.

Meski berdomisili di desa Weru Kidul, Kec. Weru, sekitar 4-5 kilometer arah barat pusat kota Cirebon, Fazri menjadi anggota PPBI Kuningan.  Mengaku sebagai anak desa, miskin, pernah jadi OB di Jakarta, namun keinginan belajarnya sangat kuat sehingga memilih kuliah di Fakultas Ekonomi Bengkulu semata-mata karena biayanya murah.

Memang sudah menjadi kelaziman dalam setiap pameran (kontes) bonsai, panitia mengatur display sedemikian rupa sehingga semua bonsai tertata dengan rapi di atas meja atau pilar. Semua bonsai diperlakukan sama. Yang sedikit membedakan adalah bonsai ukuran Mame atau Extra Large sehingga membutuhkan pengaturan khusus. Jujur saja, pengaturan bonsai yang seragam seperti itu sebetulnya tidak menguntungkan bagi bosai itu sendiri. Karena setiap bonsai sebetulnya membutuhkan perlakuan yang bisa jadi tidak sama. Yang selama ini sudah dilakukan adalah, pemilik bonsai diperbolehkan membawa tatakan atau meja kecil tersendiri bagi bonsainya.

Maka dengan kehadiran tiga buah bonsai milik Fazri ini membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Sayangnya, tidak ada penjelasan tertulis, setidaknya berupa judul pada bonsai tersebut sehingga memudahkan pengunjung menebak apa maksudnya. Dan soal judul ini, memang sampai dengan hari ketiga setelah pembukaan, ternyata panitia belum memberi label masing-masing bonsai sehingga pengunjung tidak bisa langsung tahu nama pohon, pemilik dan juga predikat penilaiannya. Paling-paling hanya penggemar bonsai sendiri yang tahu makna bendera hijau, biru dan merah yang tertancap di potnya. Itupun panitia sepertinya kesulitan menempatkan bendera sehingga diikatkan dengan tali di pohonnya langsung. Tentu saja pemandangan ini kurang elok dipandang mata. (*)












Sumber : http://jelajahbonsai.blogspot.com/

Arabica alias Klampis, Tidak Perlu Takut Merawat

Klampis koleksi Herman, Ponorogo
Oleh Henri Nurcahyo

Kalangan penggemar bonsai lebih mengenalnya sebagai Arabica (Arabika), meski nama lokalnya adalah Klampis, Klampis Ireng, atau Pung Hitam. Sosoknya memang meyakinkan sebagai bahan bonsai. Selain daunnya yang memang sudah kecil, karakter batangnya sangat kuat, sudah memperlihatkan kesan tua. Persoalannya, merawat Arabica gampang mati. Apa betul begitu?

Menurut Saudi, kalau memang niat menjadi penggemar bonsai harus tahu karakter pohonnya. Arabica dinilai sulit merawat karena tidak mengerti karakternya. Indonesia ini adalah negeri yang sangat beragam berbagai jennis pohonnya. Kita  harus mempelajarinya, dan  bukan menaklukkannya. Soal katakter pohon ini kadang dianggap sepele, tapi kadang-kadang malah dilewatkan.  “Kalau tahu-tahu mati jangan salahkan penjualnya,” ujar pedagang bonsai asal Tulungagung tersebut.

Ketika ditemui di stand bursa pameran bonsai di Cirebon belum lama ini, Saudi menjelaskan, Arabica itu merupakan salah satu bahan bonsai yang ideal. Batangnya mudah dibentuk, kalau mau melakukan wiring (pengawatan) enak meski cabangnya sudah agak besar. Gak usah dipuntir seperti dilakukan pada cemara (Acacia).  Meskipun, Arabica sama-sama berasal dari genus Acacia. Dan nama latinnya juga Acacia arabica atauAcacia nilotica.

Koleksi Kemal P, Lamongan
Saudi mendapatkan Arabica langsung dari alam. Tentu saja dia membelinya dari para pemburu rekanannya. Menurut pengalamannya tidak usah membawa tanah asal. Cukup ditanam dengan media pasir Malang atau tanah murni. Tanpa kompos sama sekali karena malah akan menyebabkan tumbuhnya bakteri. Yang penting harus disirami terus agar cepat tumbuh tunas. Kalau hendak melakukan repoting ke pot yang lebih kecil, sarannya, lakukan pengurangan akar bertahap, agar tidak stress.

Sama-sama memiliki batang berwarna hitam, karakter Arabica lebih kuat daripada Mustam. Kalau Mustam masih terlihat lebih halus kulitnya, sementara Arabica nampak kasar, pecah-pecah, sehingga lebih mengesankan pohon yang sudah tua. Hal ini sangat cocok sebagai bahan bonsai yang baik.

Mati Cabang

Sementara itu, sebagai perbandingan, Arabica ternyata dikenal sebagai tanaman yang gampang mati cabang. Menurut Syaiful Arif, hal ini karena pertumbuhan cabang tidak merata. Kalau ada satu cabang yang tumbuh dominan misalnya, maka cabang-cabang yang lain langsung kalah. “Karena itu kalau ngelos cabang harus hati-hati, kalau tumbuhnya terlalu cepat harus dipotong, direm, untuk memberi kesempatan cabang lain tumbuh juga,” jelas  trainer bonsai ini.

Karakter batangnya sangat kuat
Syaiful mengakui, Arabica yang diambil dari alam gampang mati ketika ditanam di pot sebab karakter pohonnya sendiri memang banyak keringan. Karena itu disarankan, dongkelan yang diambil dari alam sebaiknya dibungkus dengan plastik untuk mencegah penguapan. Cukup dilubangi kecil-kecil sebagai jalan pernafasan. Dibiarkan selama 1-3 bulan sampai dengan tumbuh tunas-tunas baru. Kondisi tertutup ini juga sekaligus untuk memulihkan akar yang habis terpotong.

Mengenai penyakitnya, biasanya yang suka menyerang adalah ulat bulu (paling banyak) dan cabuk. Cara mengatasinya cukup disemport insectisida. Sedangkan perbanyakannya, sebetulnya bisa dengan biji, tapi terlalu lama. Cangkok juga bisa tapi sulit.  Penggemar bonsai lebih suka membeli bakalan yang berasal dari alam saja.  

Aslinya Arabica memang memiliki duri yang tajam-tajam. Tentu saja untuk kepentingan bonsai harus dipotongi bersamaan dengan pengawatan. Jika sudah jadi bonsai, duri itu sudah tidak ada lagi, kecuali pada cabang yang tumbuh baru.  Ada yang bilang, pemotongan duri ini agak emnghambat pertumbuhan pohonnya.


Klampis di bursa Saudi
Sementara itu, keberadaan Arabica di alam bebas malah dianggap pengganggu. Pihak Taman Nasional sampai rela mengeluarkan biaya besar untuk membasmi pohon hitam yang cepat menyebar ini. Di TN Baluran, Arabica dikatagorikan sebagai “tanaman sekat bakar”. Dalam Jurnal Duta Rimba tahun 1990 pernah ditulis, bahwa pada mulanya Arabica ini ditanam di TN Baluran sejak tahun 1969. Namun spesies ini terkenal lincah sehingga justru mendominasi vegetasi savana dasn mendesak rerumputan yang menjadi pakan hewan herbivora. Bayangkan kalau untuk memusnahkan Arabica di TN Baluran diserahkan saja pada pemburu bonsai. Pasti bisa mengurangi biaya yaa... (*)
Sumber : http://jelajahbonsai.blogspot.com/

KIAT MENUTUP BEKAS POTONGAN PADA BONSAI


Untuk melakukan training bonsai, tidak terhindarkan harus memotong cabang, bahkan juga batang utama. Persoalannya, bekas potongan itu menyisakan bekas yang mengganggu penampilan. Bekas potongan itu meninggalkan bekas di bagian tepinya yang menebal, seperti bibir tebal, mbendhol. Bagi penggemar bonsai yang cermat, hal ini dianggap kurang perfect, tidak indah, dan mengganggu kesempurnaan sebagai sebuah bonsai.

Sebagaimana diketahui, bahwa bonsai yang baik itu bukan sekadar pohon besar dalam bentuk mini. Tetapi harus nampak kesan bahwa bentuk mininya itu seolah-olah terjadi secara alami, bukan hasil rekayasa manusia. Itulah sebabnya sebuah training yang berhasil manakala hasil training itu sudah tidak terlihat lagi bekasnya. Pada kompetisi bonsai kelas bintang misalnya, kesempurnaan training ini justru menjadi perhatian utama yang menentukan nilai. Sebuah bonsai yang dibentuk dengan wiring (pengawatan) misalnya, pada saat kontes harus terlihat seolah-olah tidak pernah mengalami pengawatan.

Demikian pula bekas potongan batang, akan lebih baik kalau bekasnya tidak kelihatan kalau batang itu pernah dipotong. Persoalannya, semakin besar sebuah batang yang dipotong, bekas potongan itu cenderung makin nampak. Itulah sebabnya, kolektor bonsai Husni Bahasuan tidak puas kalau hanya membiarkan bekas potongan itu kelihatan mencolok. Melalui trainer-nya, Samsul Arief, dilakukanlah sebuah rekayasa agar bekas potongan itu sesedikit mungkin meninggalkan bekasnya.

Caranya, begitu batang itu dipotong secara rapi sesuai dengan keinginan, kemudian dibungkus dengan lakban plastik yang bening sampai dengan seluruh permukaan bekas potongan itu tertutup. Dengan cara ini maka bekas luka akibat dipotong itu dapat menutup tanpa harus meninggalkan bekas seperti bibir tebal. Pertumbuhan kulit dan kambium bekas potongan akan dipaksa mengarah ke dalam karena sudah dikondisikan oleh bungkus plastik tersebut. Lagi pula, dengan adanya bungkus plastik maka waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka bekas potongan menjadi lebih pendek. “Bisa hemat waktu setengahnya,” ujar Saiful.

Dalam kesempatan terpisah, Teddy Jabrix dari Tegal menambahkan, bahwa bekas potongan itu akan cepat menutup kalau di bagian atasnya sengaja dipelihara cabang. Keberadaan cabang inilah yang akan memacu suplai makanan ke daerah itu sehingga mempengaruhi penutupan kambium pada bekas potongan tersebut. Selain itu juga tergantung jenis pohonnya. Untuk jenis-jenis pohon bergetah, seperti ficus, tentu lebih cepat menutup bekas lukanya.

Salep Kambium

Selain cara alami, kalau mau praktis, sudah ada salep khusus yang digunakan untuk menutup bekas luka agar kambium cepat tumbuh. Menurut Trias, yang meproduksi salep tersebut, dengan menggunakan salep kambium maka dapat dihemat waktu hingga empat kalinya, dibanding kalau dibiarkan begitu saja. Lagi pula dengan membiarkan bekas potongan sangat rentan mengundang bakteri dan penyakit.

Selama ini memang sudah ada salep semacam itu, produksi Taiwan dan Jepang. Namun harganya kelewat mahal. Lagi pula, menurut penuturan sejumlah pengguna, salep yang menempel itu bisa mengeras seperti batu. Salep produksi Kediri itu hanya dijual Rp 60 ribu untuk botol 300 cc. Cukup satu kali oles bisa bertahan hingga 10 tahun. Sementara salep impor dari Jepang Rp 150 per 200 cc, dan yang dari Taiwan 250 ribu. “Cuma produk mereka dikemas seperti pasta gigi, jadi lebih praktis,” ujar Trias yang mengaku akan meniru kemasannya.

Ditemui di sela-sela pameran bonsai di Cirebon, Trias menurutkan, bahan dasar salep tersebut berupa Asam Traumalin, lateks, antibodi dan pewarna, untuk merangsang penutupan kambium. Dengan demikian luka cepat kering, anti bakteri dan hindari penguapan. Soal warna ini nampaknya diperngaruhi selera konsumen. Ada yang suka warna kemerahan, sehingga menyerupai bekas Jin. Ada yang warna netral, atau hitam seperti produk Jepang.  

Trias sendiri mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan kimia untuk membuatnya. Kebetulan dia memiliki pengalaman soal morfologi ketika bekerja di industri pertanian dan pengembangan bibit tanaman.


Meski hanya satu-satunya produsen semacam di dalam negeri, namun tingkat penjualannya boleh dibilang lambat. Sebab satu botol dapat digunakan selama satu tahun. Karena itu Trias juga memproduksi pupuk perangsang tunas, pemacu buah dan pemacu tunas. (henri nurcahyo)
Sumber : http://jelajahbonsai.blogspot.com/

ARTI KATA BONSAI BUNJIN DAN KONTEMPORER

BUNJIN DAN KONTEMPORER

Bagi penggemar bonsai, kata bunjin dan kontemporer mungkin sudah menjadi keseharian yang sering di dengar. Namun banyak juga diantaranya yang masih kebingungan dengan menganalisa dan mengartikan secara real kedua kata tersebut diatas. Saya sebagai penulis blog ini, mungkin akan mencoba mengeluarkan pendapat sendiri. Karena pendapat pendapat yang ada masih membutakan banyak penggemar bonsai.

BUNJIN
Bunjin adalah sebuah gaya yang merupakan hasil imaginer si pembuat karena telah mengalami “kejenuhan” dalam membuat bonsai dengan kriteria dari gaya yang sudah ada, semisal KENGAI, HAN KENGAI, SHAKAN, CHOKAN, NETSURANARI, dan lain sebagainya. Bunjin lahir dari ide para master bonsai jaman dulu, ketika dinasti Tang berkuasa. Ketika jaman tersebut, tindak keras penguasa dan intimidasi di sana sini membuat banyak orang frustasi. Termasuk para seniman bonsaipun merasakan hal seperti itu, dan ketika itulah,,,,para seniman bonsai di sana membidani lahirnya sebuah gaya yaitu BUNJIN.
Bentuk gaya seperti ini sangat mudah dibedakan dengan bentuk pohon lainnya, sebuah ciri khas dari bunjin adalah tajuk pohon hanya berada diatas (top). para seniman ketika membuat gaya seperti ini mengasumsikan bentuk pohon yang merana dan berumur tua yang kuat diterpa oleh keganasan alam sekitarnya.

KONTEMPORER
Nah, inilah yang selama ini selalu menjadi bahan polemik diantara semuanya. Banyak orang berpendapat bahwa kontemporer ini merupakan sebuah gaya yang tidak bisa diakui keberadaannya. Namun banyak juga yang menganggapnya sah sah saja jika dibuat menjadi gaya.
MARI KITA AMBIL JALAN TENGAH
Menurut saya : Bonsai Kontemporer adalah sebuah aliran yang jelas tidak bisa berdiri sendiri, dan tetap harus disatukan dengan jenis gaya yang sudah ada dalam bonsai. KONTEMPORER sendiri mempunyai arti “Kekinian” – “Sewaktu” – “Sejaman dengan” atau “Modern”, maka jika kita satukan dalam kalimat ” Kamu punya bonsai gaya apa ?” maka yang ditanya bisa menjawab ” Saya punya bonsai bergaya Kengai kontemporer “.
MUNGKIN, penganalogian para pecinta bonsai tentang kata kontemporer adalah sebuah bentuk bonsai yang penuh dengan Shari dan Jin. Tidak bisa dipersalahkan juga, karena anggapan atau komentar sah sah saja selama komentar itu pada akhirnya memberikan sebuah solusi yang menarik.
Jadi sah juga kiranya jika saya meng analogikan KONTEMPORER tersebut adalah BUKAN sebuah GAYA, tapi lebih ke faham atau isme ALIRAN.
Apa alasan dan dasar saya mengatakan hal seperti itu?
Mari kita lihat master bonsai KIMURA, Dia banyak sekali menghasilkan bonsai dengan bentuk yang super fantastis. Bonsai yang dihasilkannya memuat imaginer tentang pohon yang dihantam oleh kerasnya alam, namun memang gaya seperti itu nyata nyata ada di alam. Bahkan Shari dan Jin yang dihasilkannya pun super fantastis….indah dipandang dan bisa membuat mata serta hati yang melihat menyatu dengan kerasnya alam ini.

CONTOH – CONTOH
Jika saja asumsi saya tentang Bunjin dan Kontemporer diatas benar, maka contoh bonsai yang tepat untuk menggambarkan nya adalah bonsai di bawah ini :
Inilah yang saya maksudkan jika BUNJIN adalah sebuah gaya dan JIN serta SARI adalah sebuah ciri dari KONTEMPORER, maka Bonsai ini bisa dikatakan sebagai BUNJIN KONTEMPORER. Seperti pula gambar yang ada di bawah ini mungkin bisa juuga disebutkan sebagai BUNJIN KONTEMPORER:
Mari kita lihat perbedaan dengan yang asli bunjin tanpa embel embel kontemporer
atau yang ini juga
Nah sekian dulu karena saya juga masih mencoba menggali kedua istilah tersebut, jika ada yang baru akan saya tambah lagi postingan ini.
Sumber :nugi234

Senin, 09 Juni 2014

BONSAI TERMAHAL DI DUNIA

Kita tidak bisa membayangkan ada bonsai semahal ini dengan harga Yen 100.000.000,00 atau sekitar Rp 12.000.000.000,00 



Sumber : okijima.com

BUAT SI SANTI TUMBUH MAKSIMAL

MEMBUAT PESAT PERTUMBUHAN SANTIGI

Di beberapa daerah di Indonesia telah diberlakukan regulasi perburuan bahan bonsai Santigi dan budidayanya. Hanya saja sementara pebonsai pesimis bahwa untuk membesarkan santigi hasil budidaya memerlukan waktu yang sangat lama. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pengalaman yang kurang tepat dalam merawat Santigi. Dari beberapa pengalaman para pebonsai yang pernah membudidayakan Santigi, ternyata pertumbuhannya relatif cepat juga dengan syarat tersedia cukup media tumbuh, unsur hara dan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan Santigi.


Santigi akan tumbuh dengan relatif pesat jika akarnya mampu tumbuh dengan maksimal jika media tanamnya cukup besar dan dibuat dari media yang porous (karena Santigi tidak memiliki kantung udara pada akarnya yang mampu membuat kedap air). Media tanam yang porous dapat diperoleh dengan cara mencampur pasir malang butiran kasar 1 bagian, kerikil zeolit 1 bagian dan pupuk kandang kotoran kambing 1 bagian. Seluruh bahan dicampur hingga membentuk media campur yang homogen.
Santigi termasuk mangrove yang cukup rakus membutuhkan unsur hara dari media tanamnya. Media tanam yang sudah berisi beberapa unsur hara seperti unsur nitrogen, kalium, phospor, dan lainnya masih perlu diberikan pupuk tambahan. Pupuk yang perlu ditambahkan adalah pupuk kandang kotoran kambing yang ditaruh di permukaan media tanam dan pupuk cair yang berasal dari campuran pupuk kandang kotoran kambing, NPK dan sedikit Furadan. Ada sejumlah pebonsai menambahkan asam glutamat/penyedap rasa/micin ke dalam rendaman campuran pupuk. Seluruh bahan pupuk direndam dalam tong/bak air selama 1 minggu. Kemudian disaring dan disiramkan ke tanaman Santigi seminggu sekali.
Penyiraman yang teratur dan cukup (sehari sekali) juga mempengaruhi pertumbuhan Santigi. Air siraman harus cukup membasahi seluruh media tanam hingga mengalir keluar lubang pot dengan cepat. Santigi akan tumbuh lebih sehat jika daun dan batangnya disiram kabut bertekanan cukup tinggi setidaknya 3 hari sekali. Penyiraman sistem kabut ini hendaknya dilakukan pada permukaan bagian atas dan bawah daun Santigi karena di sisi bagian bawah daun terdapat lubang stomata yang berfungsi untuk proses respirasi/pernafasan Santigi.
Pertumbuhan Santigi juga akan semakin pesat jika didukung dengan lingkungan yang baik. Santigi memerlukan curahan sinar matahari sepanjang hari, hembusan angin yang cukup. Angin yang cukup akan menyebabkan ranting dan daun santigi bergerak-gerak tertiup angin. Gerakan Santigi ini akan membantu proses kapilerisasi air dan bahan makanan ke daun untuk dimasak/fotosintesis serta distribusi hasilnya. Untuk memperoleh pertumbuhan maksimal pada batang atau ranting yang diinginkan maka perlu pengurangan jumlah ranting. Cangkok ranting yang tidak diinginkan dan sisakan hanya ranting-ranting yang memang dipersiapkan untuk dibentuk selanjutnya. Tidak ada salahnya sesekali ajak bicara Santi kesayangan anda, tanya apa maunya agar tumbuh sehat, pesat dan semakin cantik.

Selamat mencoba dan menikmati kesenangan baru merawat dan budidaya Si Cantik Santi.

BONSAI YANG BERUMUR SEPULUH ABAD

Bonsai ini diperkiran berusia 1000 tahun dan sekarang berada di Museum Bonsai "Crespi" Italia.





Bonsai ini berumur diperkirakan 400 tahun yang sekarang berada di National Bonsai & Penjing Museum  Washington  di rawat oleh Keluarga Yamaki